Sekarang kami tinggal di Asrama yang disediakan pihak kampus di daerah Tambun-Bekasi. Latar Belakang yang berbeda baik dari segi etnis, bahasa, pendidikan dan kultur keagamaan membuat Asrama kami seperti miniatur Indonesia. Dari segi etnis kami berasal dari suku Jawa, Sunda, Melayu, Bugis, Padang, Batak, dll, dari segi pendidikan mulai dari lulusan Pondok Pesantren, Aliyah Sekolah Umum bahkan STM, dan dari segi kultur keagamaan, ada yang dari NU, Muhammadiyah, Persis, dll. Dan seringkali keberagaman tersebut menimbulkan perselisihan, salah paham bahkan perdebatan-perdebatan diantara kami, Namun yang pasti keberagaman tersebut mengajarkan kepada kami tentang APA ITU PERBEDAAN.
Suka dan duka kami lalui bersama, canda, tawa, bahkan pertengkaran menghiasi hari-hari kami di Asrama. Jauh dari keluarga mengajarkan kepada kami untuk saling berbagi, saling mengasihi dan menyayangi.
Dan kini saatnya, setelah hampir dua tahun bersama, kami akan menguji kebersamaan tersebut dalam sebuah amal nyata melalui salah satu program kerja kami yaitu “Kafilah Da’wah 1429 H” yang akan dilaksanakan di daerah pedalaman Lombok NTB. Dan kami berharap, dengan dukungan dari semua pihak, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik, sebagai ajang pembuktian dan latihan untuk nantinya kami dapat mengabdi di daerahnya masing-masing.
Berikut Profil Calon-Calon Mujahid Da’wah yang akan Berangkat ke Lombok.
1. Hendriyanto
Putra kelahiran Sumenep Madura berdarah Bugis, 23 tahun lalu ini yang bakal jadi komandan acara kafilah da’wah. Lulusan Pondok Pesanten Modern Al-Amin ini punya tugas yang lumayan berat, karena menjaga pasukannya tetap kompak dan solid bukanlah pekerjaan mudah……. tapi beliau optimis dan akan berusaha sebaik mungkin…. Insya Allah
2. Saeful Rokhman
Putra Cirebon ini punya keahlian khusus diantara penghuni asrama yang lain, yaitu keahlian Jurnalistik, sebagai sekretaris pada kegiatan ini, beliau yang akan mencatat seluruh kegiatan yang berlangsung, mulai dari Jakarta, Lombok sampai kembali ke
3. Darwadi
Putra kelahiran Sambas Kalimantan Barat merupakan utusan dari Dewan Da’wah Kalbar. Tanggung jawabnya sebagai seorang utusan yang nantinya harus membangun daerahnya membuat dirinya termotivasi untuk belajar dengan semangat. Biar tubuhnya rada-rada kecil, tapi semangatnya luaaaar biasa…. Beliau diamanahi untuk mengatur keuangan kegiatan Kafilah Da’wah ini
4. Nur Ali Fikri
Kelahiran Subang yang punya senyum khas ini paling tenang pembawaannya, sifatnya yang lembut, gak pernah marah selalu membuat orang yang menatapnya terpesona …(apa yach rahasianya). Walau di Asrama disediakan kamar yang lumayan nyaman, beliau lebih senang tidur di Masjid Kampus…. “lebih tenang” katanya. Bersama-sama Darwadi beliau akan mengelola keuangan Kafilah Da’wah.
5. Hariyanto
Dari namanya banyak yang mengira beliau orang Jawa, tapi ternyata beliau berdarah bugis yang lahir di Nunukan
6. Eling Fany Ardiyanto
Beliaulah yang bakal jadi tuan rumah di kegiatan ini, meskipun berdarah Jawa, tetapi beliau kelahiran Lombok NTB. Jebolan Ma’had Tahfidz ISKARIMAN ini paling banyak hafalan Qur’annya, bahkan denger-denger beliau ini hafidz, tapi karena tawadhunya, gak pernah ngaku berapa surah yang dihafalnya.….!!! Dengan kafa’ahnya tersebut beliau nantinya punya amanh untuk melakukan Penataran Iqra untuk guru-guru TPA…
7. Saparianto
Putra kelahiran Samarinda Kaltim ini mempunyai sifat yang dewasa diantara penghuni asrama yang lain, hal itulah yang kemudian membuat beliau terpilih menjadi ketua asrama 2 periode berturut-turut. Kapabilitasnya sebagai pemimpin tidak diragukan lagi. Sifatnya yang bersahabat dan kepandaiannya berdiplomasi membuat beliau di amanahi sebagai seksi HUMAS, yang nantinya akan berinteraksi dengan banyak pihak.
8. Roli Noberto
Uda kita yang satu nie, kelahiran
9. Agus Setiawan
Cah Lamongan yang suka ngotak-ngatik komputer ini sangat berminat dengan masalah-masalah yang berbau IT (mangnya IT bau yach). Kemampuannya dalam hal-hal yang berkaitan dengan IT tak diragukan lagi, untuk itulah beliau diamanani untuk mendokumentasikan seluruh kegiatan Kafilah Da’wah ini.
10. Muhammad Idris Yusuf
Putra Jawa Kelahiran Lampung (PUJAKELANA) ini adalah jebolan
11. Mahmud
Putra Melayu kelahiran
12. Nizar A. Saputra
Putra sunda ini salah satu Mahasiswa terbaik di kampus, walaupun tubuhnya kecil, tapi ilmunya luaaaassss banget, pegetahuannya yang luas seringkali menjadi rujukan penghuni asrama yang lain jika ada tugas makalah dari dosen, bahkan kadang-kadang copy-paste dari makalah beliau……… Jebolan Pondok Pesantren Persis Bandung ini yang akan mengatur jalannya acara selama kafilah da’wah.
13. Suwandi
Beliau datang dari pulau terpencil di ujung Madura. Lulusan Pondok Pesantrein Persis (tapi beliau lebih senang pondoknya disebut Ma’had Al-Ittihad Islamiyah) punya cita-cita besar untuk membangun daerahnya. Sekarang beliau diamanahi menjadi ketua Asrama. Banyak sudah program-program asrama yang beliau jalankan.. Dalam kegiatan kafilah da’wah ini beliau diamanahi untuk mengelola acara bersama-sama dengan Nizar, Jaka dan Robith.
14. Jaka Firmansyah
Jawara Banten yang ngga punya jurus ini rada-rada aneh, klo temen-temen yang lain rata-rata lulusan Pondok Pesantren atau minimal SMA Islam, tapi beliau lulusan STM, tapi insya Allah, keahliannya bakal bermanfaat dalam kegiatan ini….. (jangan lupa bawa obeng om…!!!) ditambah pengalamannya menjadi relawan ketika Aceh diterjang Tsunami, dan juga ketika gempa bumi di Jogja… walaupun iilmu agamanya dikit, tapi siap tempur…
15. Rabithah Alam Islami
Namanya yang khas ditambah juga logatnya yang njawa medhok (temanggung tulen) membuat beliau mudah diingat. Orang tuanya yang aktivis PII sedikit banyak mempengaruhi pemikiran beliau. Lulusan Pondok Pesantren Al-Mutaqien ini juga punya hobi mendaki gunung….. so dikirim ke daerah mana aja, insya Allah beliau selalu siap…..
